RUMAH ITU SELALU ADA DI MIMPIKU

Tiba-tiba saja pagi itu anak-anak berlarian ke luar rumah sambil tertawa terbahak-bahak sambil menatap orang tua mereka, melihat cucu kami yang mulai menirukan gaya seorang rocker yang sedang melantunkan tembang rock yang saya tidak kenal karena sudah bukan waktunya untuk mendengarkan lagu-lagu keras seperti dulu.

Dari kejauhan aku tersenyum sambil melanjutkan memotong rumput yang sudah mulai tinggi di halaman depan, istriku dengan setia menemani sambil memegang sebuah keranjang sampah yang sudah tidak menarik lagi warnanya.
“Coba itu lihat cucumu, persis kelakuan anakmu saat dia mulai bisa bernyanyi!”, sambil tersenyum dia menatap.
“Darah rockernya kental mengalir, yah seperti kakeknya ini!”, sambutku.
Meskipun jarak kami agak jauh dari teras rumah, tapi hingar-bingar dua keluarga anak-anak kami terdengar dengan senangnya.

Dua anak putra-putri, dua menantu dan tiga orang cucu mengisi kesepian kami saat mereka datang berkunjung di akhir pekan. Tidak banyak yang kami lakukan, hanya senda-gurau untuk mengobati rasa rindu sepasang kakek-nenek yang mulai menghabiskan masa tua di rumah yang kami idam-idamkan lebih dari tiga puluh tahun lalu.

Meskipun saat ini modelnya sudah ketinggalan tapi keringat dan kasih sayang kami untuk membangun rumah tersebut tidak akan pernah meninggalkan kesan. Tawa, tangis, emosi, ide-ide konyol dan guratan-guratan pensil warna karya maestro kecil yang selalu kami cat kembali setiap tahunnya masih terasa sampai hari ini.

Tiga kamar tidur, sebuah ruang keluarga yang mewakili ruang tamu dan dapur serta ruang makan seadanya tidak banyak berubah sejak pertama kali kami membuatnya. Dua kamar anak-anak kami menjadi penawar rindu saat mengingat mereka tumbuh menjadi pribadi seorang manusia. Tempat tidur dan lemari pakaian mereka masih pada posisi yang sama saat mereka meninggalkan untuk membangun sebuah keluarga.

Sore harinya mereka mengajak kami untuk duduk-duduk sambil melihat anak mereka berlarian di halaman rumah, dua kursi tempa yang kami letakkan di halaman tersebut cukup membuat kami santai menghabisi sore hari dengan cerita dan keluh kesah mereka sehari-hari.
“Hidup… keluarga ini hidup, tidak jauh meleset dari mimpi Ayah dulu!”
“Waow… Ayah kita ternyata punya mimpi…”, sambil memainkan alis mata sebelah kirinya Mauza menggodaku.
“Iya, tidak satupun kekecewaan itu hadir sampai hari ini, dan kalian membuat Ayah dan Ibu bahagia!”, “Nikmatilah hidup kalian agar bisa berkumpul seperti ini saat tua nanti!”, lanjutku.

Dan anak-anak mereka masih asyik berlarian sampai salah satunya terjatuh, dengan segera neneknya menggendong karena tangisnya memecah pembicaraan kami. Adzan Maghrib berkumandang, kami pun bergegas masuk ke dalam rumah.
Usai sholat Maghrib dan makan malam kami berkumpul diruang keluarga melanjutkan pembicaraan sore tadi, tidak ada topik yang berat dalam pembicaraan tersebut.

Aku berdiri dari tempat duduk berencana mengambil segelas air di meja makan, dahaga ini terasa haus. Tapi saat melewati lorong menuju meja makan, Bukkk… kepala ini membentur salah satu sisi dinding lorong, mereka berlari dengan kagetnya menuju badan ini yang sudah terlentang di lantai.
Sayup-sayup suara mereka memanggilku, “Ayah… Ayah… Kakek… Kakek…”, ada suara tangis juga namun terdengar jauh di telinga ini.
Sambil mencoba menahan sakit kepala dan sayup-sayup suara mereka yang masih terdengar, ingatan ini mencoba merunut semua kejadian sejak kami pindah ke rumah ini. Menurunkan barang-barang dari mobil yang mengangkut kepindahan, kemudian saat anak kedua kami lahir, boks bayi yang kami lipat karena sudah tidak terpakai, pernikahan anak-anak, lebaran dirumah ini. “Ayahh…”, sayup itu terdengar lagi.

Masih… runutan itu masih terlintas, banyak dan terus sampai aku mulai mengingat saat kamarin sore mereka datang membawakan kami sebuah bingkai foto mereka, aku dan istriku yang memotong rumput, obrolan sore di taman.
Dan mata ini mulai gelap… gelap… “Ayah… Ayah… Ayah…”, mulai terdengar ada yang merengek di telinga ini dan semakin kecil suaranya sambil menggoyangkan badan ini. Mungkin sampai disini Cinta dan Hidupku di Rumah Impianku ini…

“Ayah… Ayah… Ayah…”, sambil merengek, “Ayah… ayo kita lari pagi… kan Ayah libur”, Mauza kecilku merengek disebelahku.
Sambil tersenyum dan ber-Istighfar dalam hati ini bicara, “Mimpi akan rumah itu datang lagi hari ini…”, semoga mimpi itu terus datang untuk memacuku mengejar mimpi itu membangun rumah kami dengan Cinta dan Kasih Sayang.

7 Comments

  1. heri says:

    Sip nih, ternyata cuma mimpi ya

  2. Rudy Sunaryo says:

    cerita yang sungguh menarik, keep on rockin !!!

  3. dodi im says:

    TULISANNYA MANTEP BOS!!
    SEMOGA MENANG YAH!!
    (JUJUR MODE)

  4. setiap orang memiliki rumah idaman masing-masing. meskipun saya pun memiliki impian yang muluk dengan rumah yang besar dan mewah full teknologi. dimana semua perangkat terhubung ke komputer dan internet. tapi ya sekedar khayalan. yang terpenting bagi saya rumah itu nyaman dan sehat untuk ditempati sekeluarga. keluarga kecil, bahagia dan cukup lahir batin itu saja.

    oia ditunggu komentar berkualitasnya juga dalam tulisan ‘Rumah Impian…’.cheers..

  5. Adam Sundana says:

    terima kasih, doakan saya menang yah :)

  6. Adam Sundana says:

    @dodi im, wah terima kasih mas Dodi, semoga doanya dikabu mas :)

Leave a Reply